Hukum Adab Dan Syarat Utang Piutang Dalam Islam ^

AriePinoci ~ [UPDATE] Hukum Dan Syarat Utang Piutang Dalam Islam - Dalam kehidupan sehari-hari, entah itu yang sudah berkeluarga (menikah) ataupun yang masih single (belum menikah) akan ada saat kita mengalami yang namanya "Hutang - Piutang". Mulai dari yang kecil sampai yang mungkin jumlah nominalnya besar, yang terkadang menjadi masalah dalam keluarga atau kehidupan. Lalu gimana adab atau syarat utang piutang dalam Islam?

Menilik hukum asal dari utang piutang dalam tinjauan syari'at akan kita dapati nash-nash Al Qur'an dan Hadits-Hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan bolehnya mu'amalah berhutang piutang selama dalam batas dan ketentuan syari'at Islam.

Dalam Al Qur'an, Allah SWT telah menurunkan satu ayat yang paling panjang dalam Al Qur'an menjelaskan tentang hukum, adab dan hal-hal yang berkaitan tentang utang piutang. Allah SWT berfirman;

مَنْذَاالَّذِييُقْرِضُاللَّهَقَرْضًاحَسَنًافَيُضَاعِفَهُلَهُأَضْعَافًاكَثِيرَةًوَاللَّهُيَقْبِضُوَيَبْسُطُوَإِلَيْهِتُرْجَعُونَ

“Man dalladii yuqridhullaha qordhon hasanan fayudhoo'ifahu lahu adh'afan kasiiroh wallahu yaqbidhu wayabshuthu wailaihi turja'uun..”

Artinya:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 245)


Syaikh Abdurrahman as-Sa'di tatkala menafsirkan ayat ini berkata,
Artinya:
"Di antara faedah yang dapat diambil dari ayat ini adalah bolehnya mu'amalah dalam bentuk utang piutang baik berupa salam maupun jual beli yang ditangguhkan pembayarannya, semua hukumnya boleh. Demikian, karena sesungguhnya Allah telah mengabarkan tentang orang-orang mukmin, sedangkan setiap apa yang dikabarkan tentang orang-orang mukmin maka hal itu merupakan buah keimanan (mereka) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT."


Begitu pula Rasulullah saw, dalam beberapa kesempatan pernah berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagaimana yang pernah dituturkan istri beliau, Aisyah,
"bahwasanya Rasulullah membeli makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran yang ditangguhkan."

Dan pada kesempatan lain, Abu Hurairah r.a menuturkan bahwa,
"Rasulullah pernah berutang seekor unta kemudian membayarnya dengan yang lebih baik dari yang beliau utang." (HR. Muslim : 1601)

Hukum Utang Piutang Dalam Islam

Pengertian Hutang Pituang

Dalam Islam, hutang dikenal dengan istilah 'Al-Qardh', yang secara etimologi (bahasa) berarti memotong. Sedangkan menurut syar’i bermakna 'memberikan harta' dengan dasar kasih sayang kepada siapa saja yang membutuhkan dan akan dimanfaatkan dengan benar, dan dia akan mengembalikan harta tersebut (pada suatu saat nanti) sesuai dengan padanannya kepada orang yang memberikannya.

Pendapat Ulama juga menyebut akad peminjaman itu sebagai akad 'irfaq', yang berarti pemberian manfaat atau belas kasih. Oleh karenanya, memberikan pinjaman itu dianjurkan dalam Islam. Dari Ibnu Mas’ud z, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً

Artinya:
“Tidaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim yang lain dua kali kecuali seperti shadaqah satu kali.”

(Shahih Lighairihi, HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 901)
(Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil no. 1389).

Jadi pemberian pinjaman itu merupakan perbuatan yang baik, membantu memberikan jalan keluar bagi seorang muslim yang mengalami kesempitan dan juga memenuhi kebutuhannya. Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah 'muamalah' yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan juga sebaliknya bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka.

=== *** ===

Syarat Hutang Piutang Dalam Islam

[1] Harta yang Dihutangkan adalah Jelas dan Murni Halal.

[2] Seorang yang meminjami (menghutangi) adalah orang yang sah bila memberi, sehingga tidak boleh seorang wali yatim meminjamkan dari harta yatim.

[3] Mengetahui Jumlah Harta yang Dipinjamkan atau Sifat Barang yang Dipinjamkan.

[4] Pihak yang Piutang (Peminjam) Niatnya adalah untuk Mendapat Ridho Allah dengan Mempergunakan yang Dihutang secara Benar.

[5] Pemberi Hutang Tidak Mengungkit-ungkit Masalah Hutang dan Tidak Menyakiti Pihak yang Piutang (yang Meminjam).

[6] Harta yang Dihutangkan Tidak akan (Diharamkan) Memberi Kelebihan atau Keuntungan atau adanya tambahan dalam pengembalian atau mensyaratkan imbalan manfaat tertentu pada Pihak yang Mempiutangkan (yang meminjam).

=== *** ===

Adab Hutang Piutang Dalam Islam

Disaat kita terjatuh dalam berbagai dilema hidup, terkadang kita harus rela mengambil utang untuk menutupi dan meringankan beban tersebut meskipun hanya bersifat sementara. Dan pada saat utang menjadi pilihan. Islam membolehkan utang-piutang tapi ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan dengan ketentuan sebagai berikut:

[] Berhutang Hanya Dalam Keadaan Terdesak, Darurat atau Terpaksa

Orang yang ingin berutang hendaklah benar-benar karena terpaksa. Sebab menurut Rasulullah SAW,
"utang merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari".

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الدَّيْنُ

Artinya:
“Jangan kalian buat takut diri kalian setelah rasa amannya.” Mereka mengatakan: “Apa itu, ya Rasulullah?” “Utang,” jawab beliau.”

(HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Beliau mengatakan: Sanadnya shahih. Lihat Shahih Targhib, 2/165 no. 1797)

[] Berhutang Pada Orang Shaleh dan Manggunakan Pinjaman Dengan Sebaik Mungkin

Sebaiknya berhutanglah pada sesorang yang shaleh dan memiliki penghasilan yang Halal. Karna uang atau barang yang Halal, insya Allah akan bermanfaat baik dan bisa digunakan untuk hal yang baik pula. Senantiasa memanjatkan Do'a kepada Allah SWT. Dan gunakan uang pinjaman (harta / barang) dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan.

Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
“Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya, hingga dia menunaikannya..”

(HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’, Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’, dan selainnya).

[] Memberi Pinjaman Dengan Ikhlas untuk Membantu

Jika ada seseorang (Saudara/Tetangga/Teman/Siapapun) yang sedang kesusahan dan meminta bantuan kita untuk meminjamkan harta (uang barang), ada baiknya kita dengan Ikhlas memberikan Pinjaman untuk Membantu Saudaranya yang Dalam Kesulitan..
Dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ قَرْضٍ صَدَقَةٌ

Artinya:
“Setiap pinjaman adalah shadaqah.”

(Hasan Lighairihi, HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 899)

Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
"Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selagi hamba itu menolong saudaranya." (HR. Muslim : 2699)


[] Berhutang Dengan Niat Baik dan Akan Melunasinya

Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah berbuat Zhalim dan Dosa. Diantara Tujuan Buruk tersebut seperti:
(a) Berhutang untuk Menutupi Hutang yang Tidak Terbayar
(b) Berhutang untuk Sekedar Bersenang-senang
(c) Berhutang dengan Niat Meminta. Karena biasanya jika Meminta Tidak Diberi, maka digunakan istilah Hutang agar mau Memberi.
(d) Berhutang dengan Niat Tidak akan Melunasinya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallohu'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah subhanahuwata'aala akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah SWT akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, kitab Al-Istiqradh no. 2387)


Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang, karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi diatas. Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya, sehingga Allah SWT pun memudahkan baginya untuk melunasinya. Sebaliknya, ketika seseorang bertekad pada dirinya, bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik, maka Allah SWT membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. Allah SWT melelahkan badannya dalam mencari, tapi tidak kunjung dapat. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang tersebut. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana, bagaimana dengan akhirat yang kekal nan abadi?

Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
"Siapa saja yang berutang sedangkan dia berkeinginan untuk tidak membayarnya, maka dia akan menghadap Allah SWT sebagai seorang Pencuri."

(HR. Ibnu Majah : 2410, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah: 2/278)

[] Haram Jika Berhutang Dengan Niat Tidak Membayar

Dari Maimun Al-Kurdi dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى مَا قَلَّ مِنَ الْمَهْرِ أَوْ كَثُرَ لَيْسَ فِي نَفْسِهِ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَيْهَا حَقَّهَا خَدَعَهَا فَمَاتَ وَلَمْ يُؤَدِّ إِلَيْهَا حَقَّهَا لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ زَانٍ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ اسْتَدَانَ دَيْنًا لاَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى صَاحِبِهِ حَقَّهُ خَدَعَهُ حَتَّى أَخَذَ مَالَهُ فَمَاتَ وَلَمْ يُؤَدِّ دَيْنَهُ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ سَارِقٌ

Artinya:
“Siapapun laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan mahar sedikit atau banyak tanpa niatan dalam dirinya untuk memberikan haknya, dia tipu istrinya lalu dia (laki-laki itu) mati sementara belum memberikan haknya maka akan bertemu Allah di hari kiamat dalam status sebagai pezina. Dan siapapun laki-laki yang berutang dan tidak ada niatan untuk melunasi hak orang yang mengutanginya, ia tipu dia sehingga dia ambil harta orang yang meminjaminya sampai dia mati dan belum membayar utangnya maka nanti akan bertemu Allah dalam status sebagai pencuri.” (HR. At-Thabarani, Shahih At-Targhib no. 1807)

Dari Ibnu Umar ia berkata Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa yang mati sementara ia menanggung utang satu dinar atau satu dirham maka akan dibayar dengan pahala amal baiknya, karena disana tidak ada dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang Hasan)


Juga At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dengan lafadz: Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Utang itu ada dua macam, maka barangsiapa yang mati dan dia berniat untuk melunasinya maka aku menjadi walinya, dan barangsiapa yang mati sementara dia tidak berniat melunasinya, maka orang itulah yang diambil pahala amal baiknya, di hari itu tidak ada dinar dan dirham.” (Shahih Lighairihi, Shahih At-Targhib no. 1803)


Dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ

Artinya:
“Barangsiapa mengambil harta manusia dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa mengambil harta manusia dengan niat menghancurkannya, niscaya Allah menghancurkan dia.” (HR. Bukhari)


[] Hutang Piutang Harus Ditulis dan Dipersaksikan

Hutang Piutang Harus Ada Perjanjian Tertulis dan Saksi yang Dipercaya. Dua pihak yang melakukan transaksi utang piutang hendaknya menulis dan dipersaksikan oleh orang lain. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah : 282)


Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
Artinya:
“Ini merupakan petunjuk dari-Nya untuk hamba-Nya yang mukmin. Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi.”


Dan di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan salah satu ayat:
Artinya:
“Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan.”

(Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim, III/316).

[] Hutang Piutang Tidak Disertai Dengan Jual Beli

Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu (melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau peminjaman) Tidak Boleh. Tidak boleh memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu miliknya, membeli, menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya..
Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:
Artinya:
“Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli.”

(HR. Abu Daud no. 3504, At-Tirmidzi no. 1234, An-Nasa’i VII/288, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga yang diharamkan.

[] Menghindari Praktik Ribawi
[ Pemberi Hutang (Pinjaman) Dilarang Mengambil Keuntungan (Bunga) dari Orang yang Berhutang ]

Aun bin Abi Juhaifah, dari bapaknya berkata,
Artinya:
"Rasulullah saw melaknat orang yang makan riba dan yang memberinya." (HR. Bukhari : 5347)


Diharamkan bagi orang yang meminjamkan untuk mensyaratkan adanya tambahan dalam pengembalian atau mensyaratkan imbalan manfaat tertentu. Ulama bersepakat, bila ia mensyaratkan lalu mengambilnya maka itu termasuk 'Riba' (haram), walaupun diistilahkan dengan sebutan lain seperti Bunga, Jasa, atau yang Lain. Dengan kata lain, bahwa pinjaman yang berbunga atau mendatangkan manfaat apapun (keuntungan / imbalan) adalah Haram berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’ para ulama. Karena tujuan dari Pemberi Pinjaman adalah Mengasihi si peminjam dan menolongnya, bukan mencari kompensasi atau keuntungan. (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra III/146,147)

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah : 278)


Dalam sebuah riwayat yang menjadi kaidah Fikih berbunyi:
“Setiap hutang (pinjaman) yang membawa keuntungan (imbalan), maka hukumnya riba..”

Riwayat ini lemah, tapi telah menjadi kaidah dalam akad pinjam meminjam atau utang piutang. Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan Riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik di dunia maupun di akhirat dari Allah ta’ala.

Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata :
Artinya:
“Hendaklah diketahui, tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. (Misalnya), seperti seseorang mengatakan “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian, atau dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu, atau anda hadiahkan kepadaku sesuatu”. Atau juga dengan tidak dilafadzkan, akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan, inilah yang terlarang, adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri, atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap, maka tatkala itu, tidak terlarang mengambil tambahan.”

(Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Shalih Al-Fauzan, II/51).

Adapun bila tambahan itu diberikan oleh peminjam karena dorongan dirinya sendiri, tanpa persyaratan atau isyarat atau maksud ke arah itu, maka dibolehkan untuk diambil, karena ini termasuk pelunasan yang baik. Karena Rasulullah SAW pernah meminjam hewan lalu mengembalikan dengan yang lebih baik, seraya mengatakan:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi.”
Sehingga hal itu terhitung pemberian shadaqah dari peminjam.

Demikian pula hukumnya bila tambahan tersebut adalah sesuatu yang sebelumnya sudah berlangsung antara keduanya, bukan karena pinjaman.

[] Kebaikan Sepantasnya Dibalas Dengan Kebaikan

Dari Abu Hurairah Radhiyallihu'anhu, ia berkata:

كَانَ لِرَجُلٍ عَلىَ النَّبِيِّ n سِنٌّ مِنَ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ n: أَعْطُوهُ .فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: أَعْطُوهُ. فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللهُ بِكَ. قَالَ النَّبِيُّ n: إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Artinya:
“Dahulu Nabi SAW punya tanggungan utang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan umur tertentu untuk seseorang, maka orang itupun datang menagihnya dan minta dilunasi. Rasulullah SAW bersabda: ‘Berikan kepada dia.’ kemudian para sahabat mencari yang seumur dengan untanya, namun mereka tidak mendapati kecuali yang lebih berumur dari untanya yang (lebih tua). Maka beliau Nabi SAW (pun) mengatakan: ‘Berikan itu kepadanya.’ Orang itupun mengatakan: ‘Engkau telah penuhi aku (dengan lebih), semoga Allah memenuhimu (membalas dengan setimpal).’ Maka Nabi SAW bersabda: ‘Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi (pengembalian hutang)’.” (HR. Bukhari, kitab Al-Wakalah no. 2305)


Jabir bin Abdillah Radhiyallihu'anhu, mengatakan:
Artinya:
“Aku datang kepada Nabi SAW di masjid, dan ketika itu beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau melunasi aku (membayarnya) serta menambahinya.” (HR. Bukhari, kitab Al-Istiqradh no. 2394)


[] Segera Melunasi Apabila Mendapatkan Kelonggaran
[ Tidak Boleh Bagi yang Mampu Untuk Menunda Pembayaran - Pihak piutang sadar akan hutangnya, harus melunasi dengan cara yang baik (dengan harta atau benda yang sama halalnya) dan berniat untuk segera melunasi ]

Karena sesungguhnya hal ini merupakan konsekuensi dari setiap hukum yang berlaku dalam utang piutang. Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim.

Dari Abu Hurairah, sebagaimana sabda Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Artinya:
“Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezhaliman..”

(HR. Bukhari dan Muslim)
(HR. Bukhari no. 2400, akan tetapi lafazhnya dikeluarkan oleh Abu Dawud, kitab Al-Aqdhiah, no. 3628 dan Ibnu Majah, bab Al-Habs fiddin wal Mulazamah, no. 2427).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallohu'anhu, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Sekalipun aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, aku tidak akan senang jika tersisa lebih dari tiga hari, kecuali yang aku sisihkan untuk pembayaran hutang..” (HR Bukhari no. 2390)


Dalam Hadits lain:

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

Artinya:
“Penundaan orang yang mampu akan menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dalam Sunan Al-Kubra, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)


Menghalalkan Kehormatannya yakni; Membolehkan bagi orang yang Mengutangi untuk Berkata Keras padanya, sedangkan Menghalalkan hukumannya yakni; Membolehkan Hakim untuk Memenjarakannya (yang berhutang).

[] Memberitahu Jika Terjadi Keterlambatan Dalam Pembayaran

Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman. Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan. Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.

[] Memberikan Penangguhan Waktu Kepada yang Berhutang

Ketika sampai tempo yang ditentukan dan Peminjam belum bisa melunasi, dianjurkan untuk memberi penangguhan waktu. Sehingga ia mendapatkan rezeki untuk membayarnya.
Hal ini berdasar pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
Artinya:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 280)


Diriwayatkan dari Abul Yusr, seorang sahabat Nabi, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat), maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan hutangnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1963)


[] Lebih Bagus Bila Memutihkan / Menggugurkan / Menganggap Lunas Hutangnya

Dan akan lebih bagus lagi bila ia (si pemberi hutang) menggugurkan/memutihkan/menganggap lunas utangnya kepada yang dihutangi (peminjam).
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا؛ فَلَقِيَ اللهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

Artinya:
“Dahulu ada seseorang yang suka memberi utang kepada manusia, maka dia mengatakan kepada pegawainya: ‘Bila kamu datangi orang yang kesulitan membayar maka mudahkanlah, mudah-mudahan Allah mengampuni kita.’ Maka ia berjumpa dengan Allah SWT sehingga Allah SWT mengampuninya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dia berkata:

أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ فَقَالَ: إِنِّي مُعْسِرٌ. فَقَالَ: آللهِ؟ قَالَ: آللهِ. قَال: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ

Artinya:
Abu Qatadah mencari orang yang berutang kepadanya. Orang itu bersembunyi darinya. Ketika ia ditemukan, ia mengatakan: “Sesungguhnya aku kesusahan.” Abu Qatadah z berkata: “Demi Allah?” “Demi Allah,” jawabnya. Abu Qatadah menyambut: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Barangsiapa yang suka untuk Allah selamatkan dari kesusahan di hari kiamat maka hendaknya ia memberikan jalan keluar bagi orang yang kesusahan atau menggugurkannya’.” (HR. Muslim no. 3976)

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِى ظِلِّهِ

Artinya:
“Barangsiapa yang memberikan tangguh kepada orang yang kesusahan atau menggugurkan utangnya niscaya Allah SWT akan naungi dia dalam naungan-Nya.” (HR. Muslim dan Al-Baihaqi)


Jika orang yang berutang tidak mampu mengembalikan, boleh mengajukan pemutihan dan juga mencari perantara untuk memohonnya.
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata,

Artinya:
“(Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan utang. Maka aku memohon kepada pemilik utang agar mereka mau mengurangi jumlah utangnya, akan tetapi mereka enggan. Akupun mendatangi Rasulullah meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. (Namun) merekapun tidak mau. Beliau berkata, “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, dan Ajwa satu kelompok, lalu datangkan kepadaku.” (Maka) akupun melakukannya. Beliau pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas, dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh.” (HR. Bukhari)


=== *** ===

Bahaya Dan Dampak Buruk Dari Hutang Piutang

Walaupun perihal Hutang-Piutang diperbolehkan dalam Islam (dengan syarat seperti yang sudah disebutkan di atas), Hutang merupakan sesuatu yang sensitip dalam kehidupan Manusia. Terkadang kita (harus) berurusan dengan Hutang-Piutang dalam keadaan yang benar-benar sangat terdesak / darurat atau kurang terdesak.

Hutang-Piutang ini akan memberikan dampak buruk, terutama kalo hutang tersebut tidak sempat untuk dilunasi (belum terbayar) kemudian yang berhutang lebih dulu meninggal dunia. Berikut bahayanya berhutang:

[1] Menyebabkan Stres

Hal utama bahaya dari Hutang adalah bisa membuat kita Stress. Biasanya kalo orang yang punya hutang, akan mengalami stres mikirin hutangnya, pikiran tidak fokus, susah tidur, gak nafsu makan, bahkan sampai jejumpalitan jambak-jambak rambut mikirin utang. Hutang bisa menyebabkan seseorang mudah merasa sedih di malam hari karena mikirin cara untuk melunasinya, sedangkan pada siang hari akan merasa kehinaan karena merasa dipandang rendah oleh orang lain akan hutangnya.

Dalam kondisi psikis yang tertekan, ditambah fisik yang ikut lemas, tingkat stres pun akan semakin tinggi:
- Bagi mereka yang senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, insya Allah bisa melalui semuanya dengan ikhlas.
- Sedangkan mereka yang berpikiran sempit, gak jarang memilih jalan pintas, misalnya bunuh diri, karena gak sanggup lagi mikirin gimana caranya membayar hutang tersebut (terutama kalo hutang udah jadi kebiasaan yg akhirnya menumpuk dan semakin sulit untuk melunasinya).


Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الدَّيْنُ

Artinya:
“Jangan kalian buat takut diri kalian setelah rasa amannya.” Mereka mengatakan: “Apa itu, ya Rasulullah?” “Utang,” jawab beliau.”
(HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Beliau mengatakan: Sanadnya shahih. Lihat Shahih Targhib, 2/165 no. 1797)


[2] Merusak Akhlak

Seseorang yang punya kebiasaan berhutang, bisa berdampak pada rusaknya 'akhlak'. Karena berhutang bukan termasuk dalam hobi yang baik, layaknya kebiasaan berbohong.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari)


Karna biasanya seseorang yang terlilit hutang sangat mudah untuk dipengaruhi oleh 'iblis' agar mengerjakan maksiat demi bisa melunasi hutangnya, dengan berbagai cara termasuk mencuri atau merampok.

[3] Dihukum Layaknya Seorang Pencuri

Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)


[4] Jenazahnya Tidak Dishalatkan

Sebagaimana yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Beliau pernah tidak mau menshalatkan jenazah seseorang yang rupanya masih memiliki hutang namun belum terbayar dan tidak ada meninggalkan sepeserpun harta untuk melunasinya. Sampai kemudian ada salah seorang sahabat yang bersedia menanggungkan hutangnya, baru Rasulullah SAW mau menshalatkan jenazah tersebut.

[5] Dosanya Tidak Terampuni Sekalipun Mati Syahid

Rasulullah SAW pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan utang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Semua dosa orang yang mati syahid Akan diampuni (oleh Allah), kecuali hutangnya.” (HR. Muslim)


[6] Urusannya Masih Menggantung

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Artinya:
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi)
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan hasan; Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib no. 1811)


[7] Tertunda Masuk Surga

Dari Tsauban, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَارَقَ رُوْحُهُ جَسَدَهُ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ؛ الْغُلُولُ، وَالدَّيْنُ، وَالْكِبْرُ

Artinya:
“Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya (meninggal dunia) dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya ia akan masuk surga, (tiga perkara itu adalah) yaitu: bebas dari sombong, bebas dari khianat (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi), dan bebas dari tanggungan hutang.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dan ini lafadz beliau. Lihat Shahih At-Targhib, 2/166 no. 1798)


[8] Pahala Adalah Ganti Hutangnya

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah)


Artinya, jika seseorang yang berhutang tidak sempat melunasinya karena meninggal dunia, maka diakhirat nanti pahalanya akan diambil untuk melunasi hutangnya tersebut.

=== *** ===

Berhutang memang diperbolehkan, namun menghindarinya adalah lebih baik. Setiap rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hanya tinggal bagaimana kita menjemput rezeki tersebut, terutama agar mendapatkannya dengan cara yang 'Halal'. Jangan mudah tergiur dengan kemewahan sesaat, perbanyaklah berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan Rezeki yang Halal lagi Berkah.

Kalo memang sangat amat terpaksa untuk berhutang, maka itu lebih baik dilakukan daripada berbuat maksiat semacam mencuri. Tapi harus diingat, tujuan berhutang adalah murni untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara yang baik pula. Serta, di dalam hati sudah berniat untuk sesegera mungkin melunasi hutang tersebut agar tidak menjadi penghalang di akhirat nanti.

Akhirnya, kita berlindung kepada Allah SWT dari belenggu utang sebagaimana Rasulullah saw juga berlindung dari-Nya dan semoga dilema utang tidak lagi melilit kehidupan kita. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang yang membelenggu. Amin..

Sekiranya mohon MAAF kalo Tulisan tentang Hukum Utang Piutang dalam Islam ini ada Kesalahan Penulisan, Sumber Hadist atau yang lainnya. Karna Disalin Arie Pinoci dari berbagai sumber:
- Buletin Al-Furqon :: Abu Kholid al-Atsariy
- http://asysyariah.com/adab-utang-piutang/
- http://dalamislam.com/dasar-islam/bahaya-hutang-dalam-islam
- http://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/muamalah/787-adab-hutang-piutang
- http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2014/11/19/33487/enam-adab-muslim-dalam-urusan-hutang-piutang.html
- https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#q=Hukum+dan+Syarat+Utang+Piutang+Dalam+Islam
Advertisement
Buat sobat Blogger dan juga para Pengunjung yang Tampan dan Cantik Mempesona Stralala Baik Hati Tidak Sombong Rajin menabung dan Sebagainya, kalo mau COPAS boleh aja kok. Tapi kalo GAK Keberatan harap cantumkan SUMBER dari Blog ini atau Link Dofollow ke Blog ini eeaa Kaka.. Thanks..
Share This

1 comments:

  1. good post... cuma biasanya orang yang berhutang enggan tuk segera membayar utangnya...

    BalasHapus

Tolong Komentar Sesuai Topik Postingan ya Gan...

 
Top